Puisi

ANGKUH

Bias mata mu siratkan jiwa mu

Tahtah mu musnahkan rasa mu

Harta mu leburkan mulia mu

Dunia butakan hati mu

 

Dalam angkuh mu

Sorga indah jijik melihat mu

Neraka merah rindukan hadir mu

 

USAI

Biru kini kelabu

Musnahlah tahta sorga

Detik kini berlalu

Pedang pun angkat bicara

 

Matahari pancarkan kemilau

Tapi bukan untuk engkau

Lunglai menggapai

Tak akan sampai

Satu jiwa, usai

 

Nol-Nol Tiga Puluh

Bolak-balik langkah waktu

Ah… jenuh

Menghempas nafas buruk mu

Kau melenguh… angkuh…

 

Nol-nol tiga puluh

Batin-batin suci

Luluh… rapuh…

Merangkak; berdiri; berlari

Kesucian semakin keruh

 

Yang ada disini

Nol-nol tiga puluh

Nurani mu mati tak bersuluh

Kau biadab…!!!

Menjegal; membunuh

Peradaban runtuh

 

Yang tersisa disini

Nol-nol tiga puluh

Kedamaian semakin jauh

 

Dua Perjalanan

Galeri hidupku tak tersibak

Hingga bahagia menjadi prahara

 

Lukisanmu tak ada lagi disini

Hilang ditelan rakusnya zaman

Mulutnya masih menganga menantiku

Tapi aku bukanlah lukisanmu

 

Dua perjalanan tlah kulakukan

Mencari jejak akhir yang kau tinggalkan

Hanya untuk galeri hidupku

Gersang tanpa lukisanmu

 

Galeri hidupku tak tersibak

Hingga bahagia menjadi prahara

 
Bumi-mu Dunia-ku

Bumi telah menuai kutukan

Penghuninya bersifat laknat

Tapi ini bukan Bumi

Ini Dunia

 

Manusia hanya sesamar kabut dari Binatang

Ketika Kabut itu hilang

Manusia menjadi Binatang

 

Aku tak mau menjadi Binatang

Karena aku bukan Manusia

Aku adalah hamba

 

Manusia tinggal di Bumi

Melangkah angkuh tanpa akhir

Hamba hidup di Dunia

Menunduk pada ke-abadianNya

 

Kau pikir Bumi abadi

Tapi yakinlah Dunia fana

 

KAU

Kau bukanlah kau

Ketika kau disini

Kau akan menjadi kau

Ketika kau sampai disana

 

Kau belailah tirai jiwamu

Jari tanganmu akan rasakan

Rapuhnya jiwamu yang kau anggap karang

 

Kau bukalah jendela jiwamu

Cahaya matamu akan kau temui

Dibalik semua yang kau acuhkan

 

Berdiam dirilah sejenak

Akan datang belaian angin

Sejuknya mungkin akan sejukkan jiwamu

 

Kau bukanlah kau

Ketika kau disini

Kau akan menjadi kau

Ketika kau sampai disana

 

Bulan Retak

Rembulan retak

Rembulan suram

Kau kirimkan untukku

 

Malam berlalu dijemput pagi

Bintang pulang, Matahari datang

 

Gerbang terkuak

Kawanku tak disana

 

Rembulan retak

Rembulan suram

Kini ku genggam

 

 

Korek-Si

Kau yang lalai

Atau aku yang lengah

Sehingga redupnya sinar obor

Yang tertancap di timur jalan ini

 

Matamu yang buta

Atau hatiku yang mati

Sehingga terkoyaknya kehormatan saudara kita

Dan kita hanya berdiri

 

Kau ingat..!

Korekmulah yang kusulut

Hingga kita terbakar

 

Ku Ingat, Ku Sadar

Yang ku ingat

Aku tak lagi di penjuru mata angin

 

Yang ku ingat

Kau tampar kealpaan jiwaku

 

Yang ku sadar

Sadisnya waktu memancung hariku

 

Yang ku sadar

Berartinya tetesan embun terakhir

Di pagi ini

 

Kemegahan

Aku…

Kau…

Kalian…

Tak akan mampu menjadi bijak

Apabila selalu memuja yang bersifat relatif

 

Aku…

Kau…

Kalian…

Telah dianugerahi kemegahan

Dari mula udara merasuki aliran nafas

 

Aku…

Kau…

Kalian…

Harus sadar, bahwa dunia manusia adalah batin.

 

Bijak-Sana-Pekat

Kau mematahkan tongkat Senja

Dan membiarkannya tergeletak

Dipuing-puing reruntuhan Waktu

 

Kau menggenggam cambuk Fajar

Dan berharap menatap kesucian

Diayunan tirai kehidupan

 

Kau memakai jubah Malam

Dan mencari kebijaksanaan

Dipekatnya

 

Bu-Daya

Mati budaya ku

Budaya ku mati

Aku mati budaya

Keegoan etnis dikarang hati ku

 

Hidup budaya ku

Budaya ku hiduplah

Akulah yang hidup

Meniti buih Sanur

Untuk mu Bu Daya

 

Pemaknaan

Kutitipkan gelisah dan penat jiwaku

Dalam senyum dan tarian buih

Tak kumatikan rasaku disini

 

Kususupkan cintaku

Di sebutir percikan ombak

Tak basahi pucuk-pucuk egoku

 

Kulemparkan sauh nurani

Di sela karang yang berguncang

Termaknai budayaku disini.

 

Bayangan Alam

Basuhlah jiwa kusam mu

Dengan air wudhu’

Samar bayangan alam

 

Cercalah qalbu kelam mu

Dengan pelita Tuhan

Hilang bayangan alam

 

Alam. Membayang. Samar

Alam. Membayang. Hilang

 

Samar dan hilang

Dan membayanglah alam

Namun tak sehitam bayangan ruh ku

 

Untuk Mu, Aku Menjadi Abu

Kau adalah Malaikat ku

Yang menyayat putus nadi ku

Dan membiarkan ku, tergeletak

Menjadi Bangkai

 

Kau adalah Bidadari ku

Yang memakan jantung ku

Dan membiarkan ku, terbaring

Menjadi Tanah

 

Kau adalah Kekasih ku

Yang merobek jiwa kemanusiaan ku

Dan membiarkan ku, berdiri

Menjadi Binatang

 

Aku adalah pelita mu

Yang memancarkan cahaya

Dan meleburkan tubuh ku

Menjadi Abu

 

Bisu, Pahit, Hilang

Titian yang ku bangun

Patah ketika kau sampai

Di seberang …

Aku tertegun, membisu

 

Setapak yang ku rintis

Kau lalui dengan telapak kecil mu

Di seberang …

Aku tertegun, pahit

 

Suara yang ku dengar

Adalah suara mu

Di seberang …

Bayangan mu, hilang

 

Kabut Di Tengah Kampus

Sang Fajar

Mengintip kehaluan Bumi

Dikala Bintang mulai menangis

Sementara Rembulan telah berhenti meratap

 

Disana…

Merambat kabut tak bernama

Menyelimuti rumput dan pepohonan

Sehingga mereka susah bernafas

 

Aku tahu

Kabut datang karena tingkah rumput dan pepohonan

Tidak lagi memuja kesucian alam

Mereka telah berubah menjadi binatang

 

Tetapi itu wajar,

Bila rumput itu adalah rumput

Dan pohon itu memang pohon

 

Tetapi itu tidak wajar,

Tatkala rumput itu adalah rambut

Dan pohon itu adalah tubuh

 

Kini Fajar yang meratap

Saat waktunya usai

Bulan dan Bintang hanya bisa diam

Melihat kabut di tengah Kampus

 

 

Ke-Aku-An

Ketika Manusia lahir ke dunia, ia memulai pencariaannya tentang ke-aku-annya dengan apa adanya.

Namun, ketika ia sadar bahwa ia adalah Manusia, maka ia menggunakan fikirannya untuk menemukan siapakah ia sebenarnya.

Di tengah perjalanan hidupnya, terkadang ia merasa telah menemukan ke-aku-annya.

Inilah Aku…!!!”. Katanya

Akan tetapi, itu hanyalah hasil penggalian yang dangkal dari fikirannya terhadap ke-aku-an itu. Karena, makna ke-aku-an yang hakiki baru akan dipahami dan ditemui oleh Manusia saat Sakaratul Maut mendekap jiwa raganya.

 

…ak, …ta

 

Cita, Cinta, dan Cerita

Tercipta dari waktu nan berseteru

Dengan aku, sebelum kaku

 

Rentak, Gerak, dan Teriak

Hanya menjadi ilusi

Untuk nanti, menjadi mimpi

 

Kenangan ada setelah waktu tiada

Dan aku akan berseteru dengan waktu

Untuk – Mu

 

 

Kemerdekaan Nan Merdeka

Aku terpasung di tanah tak terjajah.

Tangan ku bebas menari,

Kaki ku bebas berlari.

Tetapi, otak dan pola pikir ku diracuni.

 

Teriak merdeka mendekat masa se-abad

Bumi hijau kita telah berubah coklat

Dan kita mati kelaparan, merana kemiskinan di atas tanah subur penuh lumpur.

 

Sementara itu,

Kita hanya sibuk bernostalgia tentang kehebatan para tetua yang berjiwa kokoh, berfikiran cemerlang, dan berbudi luhur.

Namun, mengapa hanya ada nostalgia ?

Alangkah bijaknya jika ada realita yang lahir dari nostalgia itu.

 

Kini,

Tepuklah dada ku, kita, dan kalian

Teriakanlah ..!!!

“Mana kemerdekaan nan merdeka ..!!”

Sadarilah ..!!!

Budaya dan peradaban kita tercabik-cabik

Karena generasi muda tidak bangga dengannya.

 

Ini Reformasi, Bung ..!!!

 

Ini Reformasi Bung ..!!!

Rakyat bebas bicara

Walau haknya masih diperkosa penguasa

 

Ini Reformasi Bung ..!!!

Rakyat makin melarat

Karena pejabat didikte para penjilat

 

Ini Reformasi Bung ..!!!

Reformasi nan terhenti

Mungkin, menunggu tarian Revolusi

 

Tersenyumlah, Wie ..!?

 

Wie, usaplah air mata mu

Tangismu takkan mengetarkan hati mereka

Karena mereka tidak lagi punya hati

Apalagi nurani

 

Jangan lagi terisak, Wie

Bukan salah mu jika mereka durhaka

Kau telah membalut jiwanya dengan emas

Tetapi, mereka menjualnya demi raga

 

Wie, tengoklah ..!?

Anak mu yang lain masih membutuhkan mu

Senyum mu sebagai penawar lukanya

Luka yang terkoyak oleh tangan saudara sendiri

 

Tersenyumlah, Wie

Aku akan membantu mu

Mengabarkan masa nan berbatas

Mengingatkan jejak nan berbekas

Agar mereka insaf

 

Tersenyumlah, Wie

Jangan biarkan cinta ku terburai

 

Wie, Aku Hanya Bisa Mengadu

 

Wie, ku tahu kau sedang resah

Karena semangat revolusi telah berubah menjadi semangat korupsi

Semenjak putra-putri terbaik mu pergi, sehingga yang tersisa hanyalah putra-putri terlicik mu

 

Wie, ku tahu kau juga risih

Melihat kain budaya nan tercabik, sehingga aurat anak-cucu mu tersingkap di sepanjang jalan

Naifnya, mereka malah tertawa bangga

 

Wie, kau mungkin belum tahu

Tunas harapan telah ditebas oleh sabit pemerintah nan sangat tajam

Sabit yang diasah dengan gerinda impor.

 

Wie, kemana pun aku palingkan wajah

Selalu ku lihat kebobrokan itu

Aku belum mampu berbuat, Wie

Aku baru bisa mengadu

 

HAMKA – HATTA

 

Hamka, Hatta

Telah berbuat untuk zamannya

Berjuang, lalu merdeka

Bagaimana dengan kita ..?

 

Hamka, Hatta

Telah menuliskan sejarah dengan tintanya

Bersahaja, membangun budaya

Bagaimana dengan kita ..?

 

Hamka, Hatta

Telah mengakhiri kisahnya

Mereka tidak meminta dipuja

Tidak untuk dinostalgia juga

 

Hamka, Hatta

Tak adakah yang bisa seperti mereka ..?

 

Ingat, Ingatlah…!

Bila tak sempat kau kenal wajahku

Kenalilah wajahmu, sebagai dirimu

Lalu, lanjutkanlah perjuangan Adam & Hawa

Yang masih terbengkalai

 

Bila ingin kau kenang diriku

Datanglah ke Padang ribu-ribu

Lalu, singgahlah di dangau-dangau puisiku

Yang ku bangun hanya untukmu

 

Bila hendak kau jumpai aku

Carilah cahaya Rabb mu

Lalu, tidurlah di pangkuanNya

Kita akan bersua

 

Hanya itu, Kawan…!

Aku lelah mengusir gelisah, kawan

Sehingga kukirimkan saja kepada malam

Dan berharap ia takkan kembali bersama kelam

 

Aku harus memelihara cemas, kawan

Hari-hari ku telah dihiasi rintik

Dan kita semakin sulit menendangkan lagu kita

 

Aku tak bisa lagi bernyanyi, meninabobokkan lagu kita

Tak bisa lagi berlari, merentang puisi hidup

Tak bisa lagi berbisik, merayu kekasihku

 

Aku tak pernah menyerah, kawan

Tapi, jika akhirnya aku tetap tak sanggup memamong sajak kita

Jangan sesali masa hidupku

Tanamkanlah do’a dan lanjutkan perjuangan kita

Hanya itu…

 

Bukan Aku

Aku bukanlah api.

Nan selalu menjadi jeruji antara asap dengan bara_

 

Aku bukanlah awan.

Nan menjadi perisai antara langit dengan bumi_

 

Aku bukanlah raja.

Nan gila sanjung dan puja_

 

Aku bukan pujangga.

Walau bicaraku dengan lidah tinta_

 

Aku bukanlah aku. Sampai ajal menjemputku_

 

 

One comment on “Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s