ANGKUH
Bias mata mu siratkan jiwa mu
Tahtah mu musnahkan rasa mu
Harta mu leburkan mulia mu
Dunia butakan hati mu
Dalam angkuh mu
Sorga indah jijik melihat mu
Neraka merah rindukan hadir mu
USAI
Biru kini kelabu
Musnahlah tahta sorga
Detik kini berlalu
Pedang pun angkat bicara
Matahari pancarkan kemilau
Tapi bukan untuk engkau
Lunglai menggapai
Tak akan sampai
Satu jiwa, usai
Nol-Nol Tiga Puluh
Bolak-balik langkah waktu
Ah… jenuh
Menghempas nafas buruk mu
Kau melenguh… angkuh…
Nol-nol tiga puluh
Batin-batin suci
Luluh… rapuh…
Merangkak; berdiri; berlari
Kesucian semakin keruh
Yang ada disini
Nol-nol tiga puluh
Nurani mu mati tak bersuluh
Kau biadab…!!!
Menjegal; membunuh
Peradaban runtuh
Yang tersisa disini
Nol-nol tiga puluh
Kedamaian semakin jauh
Dua Perjalanan
Galeri hidupku tak tersibak
Hingga bahagia menjadi prahara
Lukisanmu tak ada lagi disini
Hilang ditelan rakusnya zaman
Mulutnya masih menganga menantiku
Tapi aku bukanlah lukisanmu
Dua perjalanan tlah kulakukan
Mencari jejak akhir yang kau tinggalkan
Hanya untuk galeri hidupku
Gersang tanpa lukisanmu
Galeri hidupku tak tersibak
Hingga bahagia menjadi prahara
Bumi-mu Dunia-ku
Bumi telah menuai kutukan
Penghuninya bersifat laknat
Tapi ini bukan Bumi
Ini Dunia
Manusia hanya sesamar kabut dari Binatang
Ketika Kabut itu hilang
Manusia menjadi Binatang
Aku tak mau menjadi Binatang
Karena aku bukan Manusia
Aku adalah hamba
Manusia tinggal di Bumi
Melangkah angkuh tanpa akhir
Hamba hidup di Dunia
Menunduk pada ke-abadianNya
Kau pikir Bumi abadi
Tapi yakinlah Dunia fana
KAU
Kau bukanlah kau
Ketika kau disini
Kau akan menjadi kau
Ketika kau sampai disana
Kau belailah tirai jiwamu
Jari tanganmu akan rasakan
Rapuhnya jiwamu yang kau anggap karang
Kau bukalah jendela jiwamu
Cahaya matamu akan kau temui
Dibalik semua yang kau acuhkan
Berdiam dirilah sejenak
Akan datang belaian angin
Sejuknya mungkin akan sejukkan jiwamu
Kau bukanlah kau
Ketika kau disini
Kau akan menjadi kau
Ketika kau sampai disana
Bulan Retak
Rembulan retak
Rembulan suram
Kau kirimkan untukku
Malam berlalu dijemput pagi
Bintang pulang, Matahari datang
Gerbang terkuak
Kawanku tak disana
Rembulan retak
Rembulan suram
Kini ku genggam
Korek-Si
Kau yang lalai
Atau aku yang lengah
Sehingga redupnya sinar obor
Yang tertancap di timur jalan ini
Matamu yang buta
Atau hatiku yang mati
Sehingga terkoyaknya kehormatan saudara kita
Dan kita hanya berdiri
Kau ingat..!
Korekmulah yang kusulut
Hingga kita terbakar
Ku Ingat, Ku Sadar
Yang ku ingat
Aku tak lagi di penjuru mata angin
Yang ku ingat
Kau tampar kealpaan jiwaku
Yang ku sadar
Sadisnya waktu memancung hariku
Yang ku sadar
Berartinya tetesan embun terakhir
Di pagi ini
Kemegahan
Aku…
Kau…
Kalian…
Tak akan mampu menjadi bijak
Apabila selalu memuja yang bersifat relatif
Aku…
Kau…
Kalian…
Telah dianugerahi kemegahan
Dari mula udara merasuki aliran nafas
Aku…
Kau…
Kalian…
Harus sadar, bahwa dunia manusia adalah batin.
Bijak-Sana-Pekat
Kau mematahkan tongkat Senja
Dan membiarkannya tergeletak
Dipuing-puing reruntuhan Waktu
Kau menggenggam cambuk Fajar
Dan berharap menatap kesucian
Diayunan tirai kehidupan
Kau memakai jubah Malam
Dan mencari kebijaksanaan
Dipekatnya
Bu-Daya
Mati budaya ku
Budaya ku mati
Aku mati budaya
Keegoan etnis dikarang hati ku
Hidup budaya ku
Budaya ku hiduplah
Akulah yang hidup
Meniti buih Sanur
Untuk mu Bu Daya
Pemaknaan
Kutitipkan gelisah dan penat jiwaku
Dalam senyum dan tarian buih
Tak kumatikan rasaku disini
Kususupkan cintaku
Di sebutir percikan ombak
Tak basahi pucuk-pucuk egoku
Kulemparkan sauh nurani
Di sela karang yang berguncang
Termaknai budayaku disini.
Bayangan Alam
Basuhlah jiwa kusam mu
Dengan air wudhu’
Samar bayangan alam
Cercalah qalbu kelam mu
Dengan pelita Tuhan
Hilang bayangan alam
Alam. Membayang. Samar
Alam. Membayang. Hilang
Samar dan hilang
Dan membayanglah alam
Namun tak sehitam bayangan ruh ku
Untuk Mu, Aku Menjadi Abu
Kau adalah Malaikat ku
Yang menyayat putus nadi ku
Dan membiarkan ku, tergeletak
Menjadi Bangkai
Kau adalah Bidadari ku
Yang memakan jantung ku
Dan membiarkan ku, terbaring
Menjadi Tanah
Kau adalah Kekasih ku
Yang merobek jiwa kemanusiaan ku
Dan membiarkan ku, berdiri
Menjadi Binatang
Aku adalah pelita mu
Yang memancarkan cahaya
Dan meleburkan tubuh ku
Menjadi Abu
Bisu, Pahit, Hilang
Titian yang ku bangun
Patah ketika kau sampai
Di seberang …
Aku tertegun, membisu
Setapak yang ku rintis
Kau lalui dengan telapak kecil mu
Di seberang …
Aku tertegun, pahit
Suara yang ku dengar
Adalah suara mu
Di seberang …
Bayangan mu, hilang
Kabut Di Tengah Kampus
Sang Fajar
Mengintip kehaluan Bumi
Dikala Bintang mulai menangis
Sementara Rembulan telah berhenti meratap
Disana…
Merambat kabut tak bernama
Menyelimuti rumput dan pepohonan
Sehingga mereka susah bernafas
Aku tahu
Kabut datang karena tingkah rumput dan pepohonan
Tidak lagi memuja kesucian alam
Mereka telah berubah menjadi binatang
Tetapi itu wajar,
Bila rumput itu adalah rumput
Dan pohon itu memang pohon
Tetapi itu tidak wajar,
Tatkala rumput itu adalah rambut
Dan pohon itu adalah tubuh
Kini Fajar yang meratap
Saat waktunya usai
Bulan dan Bintang hanya bisa diam
Melihat kabut di tengah Kampus
Ke-Aku-An
Ketika Manusia lahir ke dunia, ia memulai pencariaannya tentang ke-aku-annya dengan apa adanya.
Namun, ketika ia sadar bahwa ia adalah Manusia, maka ia menggunakan fikirannya untuk menemukan siapakah ia sebenarnya.
Di tengah perjalanan hidupnya, terkadang ia merasa telah menemukan ke-aku-annya.
“Inilah Aku…!!!”. Katanya
Akan tetapi, itu hanyalah hasil penggalian yang dangkal dari fikirannya terhadap ke-aku-an itu. Karena, makna ke-aku-an yang hakiki baru akan dipahami dan ditemui oleh Manusia saat Sakaratul Maut mendekap jiwa raganya.
…ak, …ta
Cita, Cinta, dan Cerita
Tercipta dari waktu nan berseteru
Dengan aku, sebelum kaku
Rentak, Gerak, dan Teriak
Hanya menjadi ilusi
Untuk nanti, menjadi mimpi
Kenangan ada setelah waktu tiada
Dan aku akan berseteru dengan waktu
Untuk – Mu
Kemerdekaan Nan Merdeka
Aku terpasung di tanah tak terjajah.
Tangan ku bebas menari,
Kaki ku bebas berlari.
Tetapi, otak dan pola pikir ku diracuni.
Teriak merdeka mendekat masa se-abad
Bumi hijau kita telah berubah coklat
Dan kita mati kelaparan, merana kemiskinan di atas tanah subur penuh lumpur.
Sementara itu,
Kita hanya sibuk bernostalgia tentang kehebatan para tetua yang berjiwa kokoh, berfikiran cemerlang, dan berbudi luhur.
Namun, mengapa hanya ada nostalgia ?
Alangkah bijaknya jika ada realita yang lahir dari nostalgia itu.
Kini,
Tepuklah dada ku, kita, dan kalian
Teriakanlah ..!!!
“Mana kemerdekaan nan merdeka ..!!”
Sadarilah ..!!!
Budaya dan peradaban kita tercabik-cabik
Karena generasi muda tidak bangga dengannya.
Ini Reformasi, Bung ..!!!
Ini Reformasi Bung ..!!!
Rakyat bebas bicara
Walau haknya masih diperkosa penguasa
Ini Reformasi Bung ..!!!
Rakyat makin melarat
Karena pejabat didikte para penjilat
Ini Reformasi Bung ..!!!
Reformasi nan terhenti
Mungkin, menunggu tarian Revolusi
Tersenyumlah, Wie ..!?
Wie, usaplah air mata mu
Tangismu takkan mengetarkan hati mereka
Karena mereka tidak lagi punya hati
Apalagi nurani
Jangan lagi terisak, Wie
Bukan salah mu jika mereka durhaka
Kau telah membalut jiwanya dengan emas
Tetapi, mereka menjualnya demi raga
Wie, tengoklah ..!?
Anak mu yang lain masih membutuhkan mu
Senyum mu sebagai penawar lukanya
Luka yang terkoyak oleh tangan saudara sendiri
Tersenyumlah, Wie
Aku akan membantu mu
Mengabarkan masa nan berbatas
Mengingatkan jejak nan berbekas
Agar mereka insaf
Tersenyumlah, Wie
Jangan biarkan cinta ku terburai
Wie, Aku Hanya Bisa Mengadu
Wie, ku tahu kau sedang resah
Karena semangat revolusi telah berubah menjadi semangat korupsi
Semenjak putra-putri terbaik mu pergi, sehingga yang tersisa hanyalah putra-putri terlicik mu
Wie, ku tahu kau juga risih
Melihat kain budaya nan tercabik, sehingga aurat anak-cucu mu tersingkap di sepanjang jalan
Naifnya, mereka malah tertawa bangga
Wie, kau mungkin belum tahu
Tunas harapan telah ditebas oleh sabit pemerintah nan sangat tajam
Sabit yang diasah dengan gerinda impor.
Wie, kemana pun aku palingkan wajah
Selalu ku lihat kebobrokan itu
Aku belum mampu berbuat, Wie
Aku baru bisa mengadu
HAMKA – HATTA
Hamka, Hatta
Telah berbuat untuk zamannya
Berjuang, lalu merdeka
Bagaimana dengan kita ..?
Hamka, Hatta
Telah menuliskan sejarah dengan tintanya
Bersahaja, membangun budaya
Bagaimana dengan kita ..?
Hamka, Hatta
Telah mengakhiri kisahnya
Mereka tidak meminta dipuja
Tidak untuk dinostalgia juga
Hamka, Hatta
Tak adakah yang bisa seperti mereka ..?
Ingat, Ingatlah…!
Bila tak sempat kau kenal wajahku
Kenalilah wajahmu, sebagai dirimu
Lalu, lanjutkanlah perjuangan Adam & Hawa
Yang masih terbengkalai
Bila ingin kau kenang diriku
Datanglah ke Padang ribu-ribu
Lalu, singgahlah di dangau-dangau puisiku
Yang ku bangun hanya untukmu
Bila hendak kau jumpai aku
Carilah cahaya Rabb mu
Lalu, tidurlah di pangkuanNya
Kita akan bersua
Hanya itu, Kawan…!
Aku lelah mengusir gelisah, kawan
Sehingga kukirimkan saja kepada malam
Dan berharap ia takkan kembali bersama kelam
Aku harus memelihara cemas, kawan
Hari-hari ku telah dihiasi rintik
Dan kita semakin sulit menendangkan lagu kita
Aku tak bisa lagi bernyanyi, meninabobokkan lagu kita
Tak bisa lagi berlari, merentang puisi hidup
Tak bisa lagi berbisik, merayu kekasihku
Aku tak pernah menyerah, kawan
Tapi, jika akhirnya aku tetap tak sanggup memamong sajak kita
Jangan sesali masa hidupku
Tanamkanlah do’a dan lanjutkan perjuangan kita
Hanya itu…
Bukan Aku
Aku bukanlah api.
Nan selalu menjadi jeruji antara asap dengan bara_
Aku bukanlah awan.
Nan menjadi perisai antara langit dengan bumi_
Aku bukanlah raja.
Nan gila sanjung dan puja_
Aku bukan pujangga.
Walau bicaraku dengan lidah tinta_
Aku bukanlah aku. Sampai ajal menjemputku_
Banyak Judul Puisi yang hilang kawan. So, edit liak yo..!?
Oleh: DM_Thanthar on Maret 30, 2008
at 8:03 am